IIAWARDS_2019_10
Indika Foundation Raih Juara Penghargaan PBB Bidang Perdamaian

Indika Foundation lewat program Milenial Islami meraih peringkat tertinggi Intercultural Innovation Awards 2019. Penghargaan yang diikuti oleh 1.200 peserta dari 128 negara ini diselenggarakan United Nations Alliance of Civilizations (UNAOC) & BMW Group, dengan memilih 10 proyek inovatif yang mendorong dialog antarbudaya untuk dunia yang lebih damai. Indika Foundation merupakan organisasi pertama dari Indonesia yang meraih penghargaan ini sejak pertama kali diselenggarakan pada 2011. Upacara penerimaan penghargaan berlangsung di Madrid, Spanyol pada 10 Desember 2019.

Indika Foundation terpilih atas program inovatif video animasi Milenial Islami. Program ini ditujukan bagi kalangan anak muda lewat beragam topik tentang ajaran Islam yang kemudian akan disebarluaskan di media sosial.  Program ini secara kreatif mempromosikan nilai religius damai dan memberdayakan kemampuan berpikir kritis anak muda, dengan memanfaatkan teknologi dan interaksi kehidupan nyata.

SBKK_1
Tak Kenal Maka Tak Sayang

Ada ungkapan, “lebih baik membangun jembatan daripada membuat tembok penghalang”. Salah satu kegiatan Seminggu Bersama Keluarga Kemenkeu (SBKK) yang menarik adalah “membangun jembatan” itu dengan berkunjung ke berbagai tempat ibadah agama di Indonesia. Dengan mengenal lebih dekat tempat ibadah dan penganut agama lain di tempat ibadah tersebut, kita bisa lebih menghargai dan menghormati keragaman yang ada di Tanah Air.

Para peserta Program SBKK yang meliputi adik, kakak dan panitia berkunjung ke berbagai tempat ibadah ikut di kawasan Cilincing Jakarta Utara, seperti Gereja Salib Suci, Gereja Tugu, Vihara dan Klenteng Lalitavistara, Pura Segara, hingga Masjid Al-Alam. Para peserta dapat bertanya banyak hal kepada pengurus tempat ibadah masing-masing, dan menjadi pengalaman menarik bagi para peserta

IMG_8494_edit
Sri Mulyani Tentang SBKK

“Anak-anak itu kalau diberikan pengalaman toleransi, ternyata bisa mendapatkan value atau nilai hidup yang baik, yang mulia, yang tidak hanya berguna untuk anak-anak itu sendiri tapi juga untuk Indonesia sebagai negara yang sangat bhineka”

Sri Mulyani Indrawati
Menteri Keuangan Republik Indonesia

“Dengan adanya Program SBKK ini kita bisa lebih menghargai kepada orang yang berbeda dan kita belajar banyak untuk bisa menghargai orang tersebut.”

Ni Nyoman Andrani Kusmawati
Peserta SBKK 

TID edisi down syndrome2
Ada Youtuber di Indika Foundation

Konten video di internet sangat menjanjikan untuk meraup banyak penonton saat ini. Berangkat dari itu Indika Foundation menggencarkan produksi konten video sebagai sarana dalam menyebarkan nilai toleransi. Berjudul Ngobrolin Toleransi, berbagai video di saluran YouTube membahas berbagai aspek toleransi dalam kehidupan sehari-hari, sebagai upaya mengarusutamakan upaya merawat toleransi, sehingga lebih banyak orang ikut berkontribusi menjadikan Indonesia lebih damai.

Setiap episode Ngobrolin Toleransi mengusung tema dan narasumber yang berbeda. Pada edisi Imlek Februari lalu misalnya, mengambil judul “Gimana Rasanya Jadi Cina di Indonesia?” Berbagai hal dibicarakan, mulai dari soal stereotip yang melekat pada kata ini, hingga pengalaman mendebarkan ketika lolos dari kerusuhan bermotif SARA pada 1998. Video ini ditonton cukup banyak orang dengan sekitar 6 ribu lebih views (per Mei 2019).

Sementara di edisi Down syndrome, dihadirkan sosok Stephanie Handojo, seorang anak Down syndrome berprestasi yang bercerita tentang usahanya agar khalayak dapat lebih bertoleransi dengan para anak Down syndrome. Sementara di edisi hadirnya MRT Jakarta, kami mengundang teman tuna netra sebagai salah satu narasumber, sehingga bisa mendapatkan perspektif yang lebih beragam tentang toleransi di antara penumpang MRT nantinya.

Aminef_6
Belajar Bersama Lintas Agama, Lintas Negara

Indika Foundation mengisi sesi 12 Nilai Perdamaian, Ask Me Anything, dan Critical Thinking pada acara yang diselenggarakan American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF) pada April 2019 lalu di Jakarta. Masih dalam program yang sama, Indika Foundation juga berperan sebagai salah satu juri final kompetisi mendongeng. Kepercayaan menjadi juri ini tidak terlepas dari pengalaman Indika Foundation dalam membuat dan menerbitkan buku Dongeng Toleransi.

Kolaborasi Indika Foundation dan AMINEF adalah pengalaman yang berharga mengingat ini adalah pertama kali Indika Foundation memberikan sesi dengan peserta lintas negara. Terdapat 22 orang siswa dan 22 orang English Teacher Assistants (ETAs) dengan total tujuh kelompok kepercayaan yang mengikuti sesi Indika Foundation. ETASs sendiri merupakan para remaja Amerika yang mengajar Bahasa Inggris dengan penempatan sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dalam feedback yang dikumpulkan, ETAs mengatakan bahwa mereka ingin menerapkan permainan yang dibawakan dalam sesi 12 Nilai Perdamaian di sekolah masing-masing. Mereka juga menilai bahwa Ask Me Anything adalah wadah yang sangat menyenangkan untuk mengenal satu sama lain. Dengan membuka kolaborasi dengan AMINEF, Indika Foundation berharap pesan-pesan perdamaian dan pendidikan karakter bisa semakin meluas.

Merasakan Toleransi bersama SabangMerauke
Merasakan Toleransi bersama SabangMerauke

SabangMerauke adalah program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia yang bertujuan untuk menanamkan semangat toleransi. Dalam program ini, anak-anak dari seluruh Indonesia akan tinggal dengan keluarga yang berbeda dan berinteraksi dengan teman-teman yang berbeda. Setelah kembali ke daerahnya, mereka akan menjadi duta perdamaian di daerah masing-masing.

Indika Foundation merasa, kegiatan ini sangatlah perlu untuk menanamkan jiwa toleransi sejak dini, sesuai dengan tagline SabangMerauke, “karena toleransi tidak bisa hanya diajarkan, toleransi harus dialami dan dirasakan”.

Salah satu peserta pelatihan sedang mendongeng di depan anak-anak
Mendongeng untuk Tanamkan Nilai Toleransi

Bagaimana cara mudah orangtua dalam mengajarkan nilai toleransi kepada anak-anaknya? Mendongenglah. Dengan membungkus nilai toleransi dengan keseruan cara mendongeng, cara ini bisa lebih manjur ketimbang orangtua sekadar memberikan nasihat atau larangan.

Dengan tujuan yang serupa pula, Indika Foundation bekerjasama dengan Petrosea melakukan berbagai kegiatan dengan unsur mendongeng di beberapa wilayah operasi Petrosea, yaitu di tambang Kideco yang berlokasi di Paser, Kalimantan Timur, dan di Petrosea Offshore Supplu Base (POSB) Sorong, Papua Barat. Kegiatan yang diadakan pada Juli-Agustus 2018 lalu adalah pelatihan mendongeng untuk guru dan orang tua, dan tentu saja pertunjukan dongeng untuk anak-anak.

Animo peserta pelatihan cukup baik, tercatat 78 orangtua dan 67 guru hadir dalam acara ini. Usai mengikuti pelatihan, beberapa peserta terpilih pun mendapat kesempatan menjadi pendongeng bagi anak-anak,yang begitu antusias mendengarkan cerita-cerita tentang toleransi dan perdamaian
Masih dalam rangka menanamkan nilai toleransi dalam media dongeng, November ini Indika Foundation meluncurkan buku anak berjudul Jangan Malu Beki, di festival dongeng bertajuk Awicarita Festival 2018 yang digelar di Hutan Pinus Asri, Imogiri, Yogyakarta. Buku yang sangat pas menjadi sumber dongeng untuk anak-anak ini menanamkan nilai toleransi seperti mensyukuri keanekaragaman yang ada. 

festival bahasa parigi
Meruntuhkan “Tembok” Pemisah Lewat Bahasa

Pernah dengar Bahasa Serawai? Kalau Bahasa Onate? Apa bedanya Bahasa Dayak dan Bahasa Dayak Kenyah? Nama-nama tersebut mungkin terdengar asing untuk mayoritas orang. Namun bagi siswa-siswa SMK Bakti Karya, bahasa-bahasa tersebut tidaklah sesuatu yang asing. Bagaimana tidak, teman sekelas mereka dalam naungan Kelas Multikultural adalah penutur bahasa-bahasa tersebut.

Dengan kekayaan budaya Indonesia, SMK Bakti Karya Parigi Pangadaran sebagai penggagas dan pelaksana Kelas Multikultural, mengadakan Festival 28 Bahasa yang masih berkaitan dengan semangat Hari Sumpah Pemuda yang kita rayakan setiap 28 Oktober. Para siswa perwakilan daerah masing-masing berorasi dalam bahasa daerah mereka sendiri. Tak hanya itu, festival ini juga menyertakan bahasa isyarat yang dituturkan teman-teman tuli sebagai salah satu bahasa dalam orasi.

Hosea, siswa asal Papua, mengaku senang mengikuti festival ini karena ia dapat memperkenalkan budaya Papua sekaligus belajar lebih jauh tentang budaya teman-temannya. Sebagai salah satu penerima manfaat Indika Foundation, SMK Bakti Karya Parigi telah menunjukkan keberhasilan dalam meruntuhkan tembok pemisah antarbudaya tanpa harus menggerus budaya masing-masing.

IMG_0046
Membongkar Persepsi Negatif Lewat Ask Me Anything

Salah satu faktor penyebab maraknya sentimen dan konflik antar-agama di Indonesia adalah minimnya interaksi antar umat beragama. Indika Foundation berinisiatif mendesain sebuah program bertajuk Ask Me Anything. Peserta yang hadir bisa membangun interaksi dan dialog dengan perwakilan seluruh agama di Indonesia. Program ini diluncurkan pada ajang Toleransi.id di Februari 2018, dan saat ini menjadi sesi “wajib” di hampir semua acara yang diadakan Indika Foundation.

Dalam sesi Ask Me Anything, narasumber akan berdiri di tempat yang tersedia, lalu peserta akan mengunjungi masing-masing tempat untuk berbincang langsung dengan narasumber. Pertanyaan yang diutarakan bermacam, mulai dari tradisi Waisak favorit untuk narasumber agama Buddha, kenapa pemeluk agama Hindu tidak diperbolehkan memakan daging sapi, hingga membahas seputar jihad untuk pemeluk agama Islam. Dialog diadakan dalam suasana yang sangat informal, bahkan peserta bisa ber-selfie ria dengan narasumber.

Melalui percakapan yang terbangun di Ask Me Anything, diharapkan persepsi dan stereotype yang ada dibenak peserta mengenai agama tertentu bisa terluruskan. 

Semangat Kerelawanan bersama Indorelawan
Menumbuhkan Semangat Kerelawanan bersama Indorelawan

Sebagai sebuah gerakan kolaborasi antara relawan dan komunitas dengan misi sosial menjadi lebih mudah, Indika Foundation tentu merasa tepat untuk memberikan sokongan untuk berbagai program yang dilakukan oleh Indorelawan.

Mulai dari kegiatan Clean Up Jakarta Day sebagai acara tahunan yang mempererat tali persaudaraan antara komunitas-komunitas, hingga berpartisipasi dalam Bulan Relawan Nasional yang dilaksanakan untuk menyalakan semangat masyarakat Indonesia dalam merayakan kebaikan dengan saling merangkul dalam kerelawanan. Sementara Chairman Indika Foundation, Arsjad Rasjid berkesempatan menjadi salah satu narasumber dalam Bulan Relawan 2017.

IMG_9627
Forum Peduli Toleransi untuk Inspirasi, Aksi, dan Kolaborasi

Indika Foundation menggagas Toleransi.id, sebuah wadah yang mempertemukan aktivis and anak-anak muda yang peduli akan toleransi di Indonesia, yang dikemas dalam bentuk talkshow interaktif dan eksperimen sosial. Acara ini merupakan hasil kolaborasi antara Indika Foundation, Sabang Merauke, dan Proud Project, serta dihadiri oleh sejumlah aktivis tenar di kalangan generasi muda.

Sesuai dengan tagline, “Inspirasi. Aksi. Kolaborasi”, event ini bertujuan untuk menyediakan forum bagi anak-anak muda peduli toleransi untuk memperoleh inspirasi, mencetuskan aksi yang berdampak sosial, serta berkolaborasi dengan satu sama lain untuk menyelesaikan isu sosial di Indonesia.

Acara ini juga menampilkan booth dari beberapa organisasi toleransi dan perdamaian di Indonesia, sehingga peserta bisa berkunjung dan berdiskusi untuk terlibat lebih jauh di proyek sosial yang sudah ada di Indonesia. Sejumlah aktivis yang hadir dan berbicara tentang toleransi di acara perdana, di antaranya adalah Aktivis Tuli Indonesia, Surya Sahetapy dan Inisiator Pesta Pendidikan, Najelaa Shihab.

Talkshow interaktif direncanakan akan diselenggarakan secara periodik di beberapa kota di Indonesia selama 2018.